Langsung ke konten utama

Spaghetti Chicken Sauce

Seperti judulnya, aku kemaren agak dulu masak spaghetti bareng rekan debatku seumur hidup, siapa lagi kalau bukan si cenil Orel Ping Ping. Karena masakan ini dipersembahkan untuk batita, jadi aku harus merelakan untuk skip saus sambal super pedas.

Bahan-bahan yang digunakan antara lain:

  1. Niat dan kebulatan kekad
  2. Spaghetti (direbus tambahin minyak dan garam), kalau sudah matang tiriskan di piring.
Biar makannya gampang, spaghetti-nya dipotekin dulu. Nah itu tugasnya Orel. Yah, walaupun sesungguhnya 80%  malah gangguin sih, tapikan demi mengasah sisi femininnya dia untuk mau terjun ke dapur. 

ghjbsjbcsdfdf
Si Cenil sedang matah-matahin spaghetti


Bahan saus:
  1. Ayam (dicincang)
  2. wortel (potong dadu kecil-kecil)
  3. Seledri (iris tipis)
  4. Trio bawang (bawang bombay <iris agak gede dikit>, bawang merah <iris sewajarnya>, dan bawang putih <cincang halus>)
  5. Air
  6. saos tomat
  7. saos tiram (tapi ini nggak jadi aku pake soalnya udah enak)
  8. garam
  9. gula pasir (kalau perlu)
  10. keju (diparut sebagai toping saya bundar)
cara masak sausnya: 
  1. Tumis bawang bombay, lalu angkat dan singkirin dulu
  2. Tumis bawang merah dan bawang putih, masukkann ayam, air, garam, gula pasir (kalau perlu) ungkep sampai ayam empuk.
  3. Masukkan wortel, kalau sudah empuk terus masukkan seledri dan bawang bombay yang sudah ditumis tadi.
  4. Masukkan saos tomat.
  5. Cicipin.
  6. Udah jadi, tinggal siram ke Spaghetti, taburin keju parut.
  7. Tinggal mamam deh.
Untuk takaran masing-masing bahan tadi sih pakai metode kira-kira. Aku tiap masak, nggak pernah lihat resep, lihat resep paling cuman lihat bahan-bahannya dan cara masak. Kalau untuk takaran atau proporsinya, aku mengandalkan feeling aja. Tinggal cemplun-cemplung. 



Spaghetti Chicken Sauce-nya sudah jadi

Kalau masakannya sudah matang siap santap, biasanya yang aku lakukan adalah berdoa. Berdoa semoga anaknya mau makan. Orel itu kadang dengan menu yang sama, hari ini dia mau, lahap sampai habis, tapi besok-besoknya nggak mau. Ya tergantung mood-nya dia sih. 

Oke deh, ini aja yang bisa aku sampaikan, masakan simple past tense yang meski nyiapin bahan-bahannya nggak sesimpel itu. Sampai jumpa lagi di posting-an selanjutnya...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

REBORN

Sudah 3 tahun lebih blog ini hibernasi. Kini sudah mulai bangun. Masih kriyip-kriyip. Dan aku hanya punya waktu beberapa menit saja untuk ngeblog. Ok, kini aku sudah menikah dan punya anak. Statusku yang baru ini bagaikan sebuah proses. Proses dimana aku seperti terlahir kembali sebagai aku yang baru. Sudahlah, iyain ajaaa… Punya anak pertama kali, sukses membuatku kaget. Tenaga, pikiran dan hati, terkuras untuk menghadapi kehidupan pasca melahirkan. Oh, seperti inikah rasanya jadi ibu. Sampai sekarang aku masih rajin mengeluh sama suami, keluarga, teman-teman, maupun tetangga. Pasti kuping mereka samapi panas mendengar curhatku. Aah, punya anak itu, merubah kehidupanku 180 o . Terutama soal jam tidur dan pembagian waktu yang berantakan. Semua serba berantakan. Gigiku saja ikutan berantakan. (((Gigi berantakan sih dari dulu!!!)) Dari semua peristiwa yang ku alami pasca melahirkan sampai sekarang anakku bisa lari-lari dan ceriwis, aku sudah mulai menemukan ritmenya. Yess!!! Ini soal

THE POWER OF AFFIRMATIONS

Setelah mengetahui aku hamil lagi (meskipun sudah pernah hamil dan melahirkan) aku mulai cari-cari info seputar kehamilan. Sampai suatu hari aku menemukan ilmu keren, yaitu   tentang afirmasi. Setiap pagi aku selalu mengucapkan afirmasi positif untukku dan janinku. Mengingat kehamilan pertamaku yang full of drama , terutama pas trimester pertama yang lumayan traumatik membuatku semangat untuk selalu afirmasi bahwa kehamilan ini aku dan janinku sehat, tidak pake acara mabok, senantiasa bugar dan bertenaga serta ceria. Mueheheee.. Hasilnya? Ajaib! Sama sekali aku tidak mengalami mabok. Mual pun tidak, tetap doyan makan, hanya saja masih suka lemes dan pusing biasalah. Hingga akhirnya aku mengalami perdarahan. Nggak tau tuh tiba-tiba aja gitu.tapi sama sekali tidak sakit. Aku masih bisa cengengesan, padahal orang-orang di sekitarku panik. Sekali lagi, karena aku selalu ucapkan afirmasi, masuk ke otak, dan otomatis alam bawah sadarku ikutan memberikan sinyal positif ke tubuhku, bahwa aku

KURETASE

Duluuu aku pernah denger kata kuret. Dari cerita-cerita yang ku dengar itu aku menyimpulkan bahwa kuret adalah tragedi horor yang mengerikan, menyakitkan, sadis, dramatis, melankolis, imbas imbis. Pada suatu ketika aku hamil, aku suka sekali baca-baca info kehamilan. Salah satu forum kehamilan ada yang menceritakan pengalamannya kuret. Dan aku biasa aja, sambil khawatir dan takut kalau itu terjadi padaku. Ku terus berdoa semoga kehamilanku sehat. Di hari minggu yang sepoy sepoy manja, aku di rumah sendirian. Wah jarang-jarang nih ada kesempatan nikmatin me time . Pas mau pipis, aku kaget, kok ngeflek? Langsung WA temen-temen, what shoud I do ? Disuruh tiduran aja. Salah satu temen yang rumahnya cuman di sebelah malah panik, langsung nganter aku ke rumah sakit. Langsung cus IGD. Setelah diperiksa, dokter menyarankan untuk kuret. Whoaaaa.. Apa yang aku takutkan akan terjadi. Hemk.. Tapi aku pulang aja dulu, karena aku tidak merasakan kesakitan apapun. Dalam perjalanan pulang, temenku me